logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sutiman Si Penjual Ikan

Sutiman Si Penjual Ikan

KM. Sukamulia – Sutiman adalah salah satu sosok kereatif yang mencari dan mengumpulkan rizki lewat usaha menjual ikan secara berkeliling dengan

Sosok Inspiratif

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
09 Februari, 2015 16:20:15
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 102599 Kali

KM. Sukamulia – Sutiman adalah salah satu sosok kereatif yang mencari dan mengumpulkan rizki lewat usaha menjual ikan secara berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Kreatifitas dan motivasi kerja yang dimiliki oleh sosoak ini menyebabkan ia hidup bahagian bersama keluarganya. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh Sutiman namun ia belum jua mendapatkan kesuksesan, setelah ia bekerja sebagai penjual ikan keliling maka Sutiman berhasil mengumpulkan uang yang lumayan besar dan menjadi sumber insfirasi bagi kawan-kawannya. Melalui usaha sebaga penjual ikan, Sutiman dapat menghidupi orang tua dan keluarganya yang awalnya hidup serba kekurangan. Untuk itu, dalam tulisan kali ini penulis akan mencoba memaparkan secara kronologis bagaimana perjalanan hidup Sutiman sehingga sekarang ia bersama keluarganya mendapatkan kehidupan yang layak dan bahagia.

Allah telah menciptakan bumi beserta isinya untuk dikelola oleh manusia demi keberlangsungan hidupnya. Banyak jalan yang diciptakan oleh Allah SWT untuk manusia mendapatkan rizki yang terhampat di lautan, di darat dan di segenap hamparan alam semesta. Untuk mendapatkan rizki-nya, Allah menitipkan kemampuan/kompetensi/keahlian dan motivasi hidup bagi setiap hambanya. Ada yang diberikan keahlian dalam bidang pengelolaan tanah, ada yang diberikan keahlian untuk mengelola lautan, ada yang diberikan keahlian untuk mengarungi udara, ada yang diberikan keahlian sebagai tukang, pengusaha, penjual ikan dan sebagainya. Salah satu contoh dari hamba Allah yang mengembangkan kemampuan dan kreatifitas hidupnya dalam bidang perdagangan/usaha adalah Sutiman yang sehari-harinya menghabiskan waktu untuk mencari dan megumpulkan rizki melalui usaha penjualan ikan secara berkeliling. Dari kegiatan menjual ikan itulah Sutiman mendapatkan rizki yang lumayan dan dari usaha itu pula ia dikenal oleh banyak orang.  Demikianlah Allah menunjukkan kekuasaan dan keadilannya kepada kita semua agar kita bertakwa dan mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya dan agari kita selalu giat dan tekun mengerjakan apa saja yang kita mampu kerjakan demi memenuhi kebutuhan hidup kita dan tentunya kita harus mencari rizki itu melalui jalan yang halal dan diridho oleh Allah SWT.

Sutiman dilahirkan di Desa Batuyang Kecamatan Pringgabaya pada pertengahan tahun 1985, ia lahir dan dibesarkan oleh ibunya (Sahnim) sebab orang tua laki-lakinya meninggal dunia saat ia masih berusia 2 tahun. Sutiman merupakan anak terahir dari tiga orang bersaudara, mereka dibesarkan oleh ibunya dalam keadaan yang serba apa adanya. Untuk menghidupi ketiga orang anaknya, Sahnim menyibukkan dirinya sebagai buruh tani dan kadang-kadang berjualan di pasar Pohgading. Atas kebesaran hatinya maka Sahnim dapat membesarkan ketiga orang putranya dan dari ketiga orang putranya itu hanya Sutiman yang dapat menyelesaikan pendidikan hingga SMP sedangkan dua orang lainnya hanya menyelesaikan pendidikan hingga Sekolah Dasar. Hingga ketiga orang anaknya remaja, Sahnim tetap tinggal bersama ketiga orang puteranya di sebuah gubuk kecil yang berada di Batuyang Lauq Desa Batuyang.

Menurut cerita yang beredar pada masyarakat Dusun Batuyang Lauk dan orang-orang yang mengenal Sutiman serta keluarganya. Pada masa kecilnya, Sutiman adalah anak yang sangat nakal dan agresif sehingga ia tidak begitu disenangi oleh warga sekitar. Sutiman juga terkenal sebagai salah seorang siswa yang sangat nakal di SMPN 3 Pringgabaya. Konon Sutiman senang mengganggu teman-temannya dan bahkan keraf kali mengganggu gurunya. Kenakalannya itu menyebabkan Sutiman menjadi langganan guru Bimbingan Konseling dan ia juga sering diskor (dihukum) oleh bapak/ibu gurunya. Di balik kenakalannya itu, Sutiman memiliki kecerdasan sehingga setiap pembagian raport, anak ini selalu mendapatkan nilai atau predikat yang baik dan bahkan ia pernah menjadi juara di kelasnya. Siti Zuriati (teman sekalas Sutiman saat SMP) pernah menceritakan hal itu kepada penulis dan Sutiman sendiri juga menceritakan hal yang sama dengan apa yang diceritakan oleh temannya itu.

Dengan segala kekuarangan dan kelebihan yang dimiliki maka Sutiman dapat menamatkan pendidikannya di SMPN 3 Pringgabaya dengan nilai yang baik pula. Selepas SMP, Sutiman tetap menunjukkan sifat nakalnya dan sering mengganggu ketenteraman tetangganya. Waktu itu, Sutiman sering mabuk-mabukan dan keluyuran sehingga ibunya merasa malu dengan tindak tanduk yang ia lakukan, bahkan kedua orang saudaranya sangat atas kelakuan Sutiman yang tidak mau mendengarkan nasehat orangtua dan orang-orang tua di lingkunganya. Karena mereasa malu dengan semua tindakan anaknya maka Sahnim memutuskan untuk membawa Sutiman berepok di tanah peninggalan suaminya yang berada di Koloh Sepang Desa Darakunci Kecamatan Sambelia. Di sanalah Sahnim memulai hidup baru bersama Sutiman, sedangkan kedua orang saudaranya tetap tinggal di Batuyang.

Di Koloh Sepang, Sutiman tinggal bersama ibunya. Mereka membuat bebalek talet (rumah yang menyerupai berugak). Di sana pula Sahnim mengajak Sutiman untuk mengelola tanah pertanian seluas 15 are yang merupakan peninggalan suaminya. Tanah pertanian itu dikelola dengan sistem tadahujan sebab kondisi geografis Koloh Sepang adalah tanah gersang yang hanya bisa dikelola pada saat musim hujan saja. Untuk mencukupi kebutuhannya besama anak laki-lakinya itu, Sahnim juga berusaha sebagai pedagang sayur keliling. Melihat kondisi itu, Sutiman mulai berfikir dan berusaha untuk merubah diri untuk menjadi orang yang lebih baik.

Sutiman adalah sosok yang sangat malas untuk bekerja sebagai petani atau buruh tani, ia lebih suka bekerja sebagai buruh bangunan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Pada pertengahan tahun 1999, Sutiman memulai karirnya sebagai buruh bangunan, sebagian hasilnya sebagai buruh bangunan diberikan kepada ibunya. Sang ibu diam-diam menabung uang yang diberikan oleh putranya dan setelah 7 bulan lamanya Sutiman menggeluti pekerjaan sebagai buruh bangunan, Sutiman mengeluh dan ingin mencari pekerjaan lain. Saat itulah sang ibu memberitahukan kepada Sutiman bahwa uang yang diberikan sejak pertama kerja telah ditabung dan saat itu sang ibu dapat mengumpulkan uang dari hasil putranya dengan jumlah Rp. 4.230.000. Mengetahui hal itu, Sutiman sangat bahagia dan meminta supaya ibunya membelikan ia motor seken yang nantinya akan digunakan bekerja sebagai pengojek.

Sang ibu menanggapi keinginan anaknya itu dan beliaupun membelikan motor seken untuk anaknya, dengan demikian sejak awal tahun 2000, Sutiman memulai karirnya sebagai pengojek yang setiap harinya mangkal di pertigaan jalan yang menuju SPN Belanting. Pekerjaannya sebagai ojek memberikan ia hasil yang cukup dan dari hasil itu, Sutiman juga bisa menabung. Setelah merasa dirinya cukup mapan maka pada awal tahun 2001, Sutiman meminta izin untuk mengahiri masa lajangnya dan sang ibu mengizinkannya. Setelah berumah tangga, Sutiman merasakan hidup yang lebih sulit dari sebelumnya sebab kini ia bertanggung jawab untuk menghidupi isteri dan ibu kandungnya yang sudah tidak kuat lagi bekerja. Bekerja sebagai pengojek di wilayah Koloh Sepang ternyata tidak lagi memberikan hasil yang cukup bagi Sutiman untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Melihat kondisi itu maka Sutiman memutuskan untuk pergi merantau ke luar daerah. Keinginannya itu ia utarakan kepada istri dan ibunya dan dengan ikhlas istri dan ibunya memberi izin kapada Sutiman. Setelah mendapatkan izin, Sutiman memutuskan untuk merantau ke Kota Metropolitan (Jakarta Barat) sebab ia mempunyai keluarga di daerah tersebut.

Pada bulan Juli 2001, Sutiman menjual motor yang biasa digunakan mengangkut penumpang, uang yang di dapatkan dari hasil menjual motor itu kemudian digunakan sebagai ongkos ke Jakarta Barat dan separuhnya ditinggalkan sebagai bekal istri dan ibunya selama ia belum mendapatkan hasil. Seampai di Jakarta Barat, tepanya di wilayah Cengkareng. Bermodal izasah SMP, Sutiman dapat diterima sebagai kariyawan di sebuah bengkel yang lumayan besar itu. Atas jasanya sebagai pekerja di bengkel tersebut, Sutiman diberikan gaji sebesar Rp. 750.000/bulan.

Selama bekerja di bengkel itu, Sutiman memperluas pergaulannya sambil mencari peluang kerja yang hasilnya lebih besar dari pekerjaan yang sedang ia geluti. Setelah kurang lebih 7 bulan bekerja di Bengkel Mitra, Sutiman ditawari oleh seorang temannya untuk bekerja di sebagai Scurity di Rumah Sakit Harapan Kita yang berada di wilayah Jakarta Pusat. Bermodal izasah SMP, Sutiman kemudian diterima di Rumah Sakit yang cukup populer itu. Setelah melaksanakan terening selama 2 bulan maka Sutiman syah diterima sebaga petugas pengaman di sana. Sutiman diterima sebab pimpinan Rumah Sakit itu menilai bahwa Sutiman adalah orang yang rajin dan cukup cekatan menangani masalah-masalah keributan kecil yang kerap terjadi di Rumah Sakit itu.

Pada bulan ketiga, Sutiman diberikan gaji atas jasanya sebagai Scurity. Gaji pertamanya adalah Rp. 1.350.000 dan pada bulan ke-5 gaji Sutiman  dinaikkan menjadi Rp. 1.500.000. Untuk mengirit biaya hidup, Sutiman tinggal di perumahan Rumah Sakit sehingga sebagaian dari penghasilannya dapat ditabung dan dikirimkan sebagai biaya hidup keluarganya di Lombok. Pada pertengahan tahun 2006, Sutiman memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai Security di Rumah Sakit Harapan Kita sebab ia melihat peluang yang lebih besar jika bekerja menjadi karyawan di sebuah bengkel yang dikelola oleh seorang temannya.

Kini Sutiman bekerja di bengkel temannya yang berada di wilayah Kalideres, di sana ia mendapatkan gaji pokok sebesar Rp. 850.000/bulan, selain itu ia juga mendapatkan uang tambahan dari jasanya mengampas barang yang dijual oleh bengkel itu. Dari kegiatan itu, Sutiman dapat memperoleh hasil bersih sekitar Rp. 1.650.000/bulan.

Sutiman merupakan sosok yang senang mencoba berbagai pekerjaan, sehingga ia sering gonta ganti pekerjaan. Jiwa petuaang yang melekat pada diri si Sutiman membuat ia senang mencoba berbagai jenis pekerjaan, mana yang ia anggap menyenangkan maka itulah yang ia kerjakan. Enam bulan bekerja di bengkel itu, Sutiman memasukan lamaran kerja di Toko Roxi Mas yang juga berada di wilayah Jakarta Pusat. Setelah lamarannya diterima maka Sutiman pamitan kepada kawannya yang mengelola bengkel itu dan memulai karirnya sebagai pelayan Toko Roxi Mas yang bergerak dalam bidang usaha niaga elektronik seperti TV, Salon, HP dan lain-lain. Untuk jasanya sebagai pelayan di toko itu, Sutiman berikan gaji sebesar Rp. 1.500.000/bulan. Setelah satu tahun bekerja di toko elektronik itu, Sutiman memutuskan untuk pulang ke kampung halaman sebab saat itu ibunya sudah mulai sakit-sakitan dan ia juga sangat rindu akan sosok putranya (Wahyu Surya Adinata) yang dilahirkan ketika ia baru dua bulan bekerja di Jakarta Barat.

Bulan Februari 2007, Sutiman pulang ke Lombok dan ia menemukan ibunya dalam keadaan sakit-sakitan. Saat itu, Sutiman belum menemukan perubahan yang lumayan, keluarganya masih hidup seadanya dan kondisi ekonomi keluarganya masih belum mengalami peningkatan yang signifikan. Selama di rumah, Sutiman mencoba mencari peluang kerja yang bisa membantunya untuk membiaya pengobatan ibunya dan juga untuk menghidupi anak istrinya dengan layak. Namun ia tidak juga menemukan pekerjaan yang tepat, sehingga Sutiman memutuskan untuk merantau ke negeri Ziran (Malaysia). Pertengahan Agustus 2007, Sutiman berangkat ke Malaysia melalui salah satu PT yang bergerak dalam bidang penyaluran TKI/TKW ke Malaysia.

Sesampai di Malaysia (Kelantan), Sutiman tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh pihak PT. Hal itulah yang kemudian menyebabkan Sutiman menghabiskan waktu di salah satu masjid yang ada di Kelantan. Di sana ia mengerjakan tugas-tugas Marbot, mulai dari membersihkan masjid dan adzan, di masjid itu juga sutiman sering membaca Al-Qur’an. Melihat Sutiman yang begitu rajin dan memiliki suara yang cukup bagus saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an maka seorang warga Kelantan mengajak Sutima untuk tinggal di rumahnya dan ia dipercayai sebagai guru ngaji untuk anak-anak orang itu. Setiap harinya sutiman hanya bekerja sebagai guru ngaji bagi 2 orang anak Abdul Zakir. Atas jasanya itu, Sutiman diberikan gaji sebesar Rp. 2.700.000/bulan dan penghasilannya itulah yang kemudian ia tabung dan kirimkan untuk biaya hidup keluarganya di Lombok.

Sambil mengajar ngaji di kediaman Abdul Zakir, Sutiman juga meluangkan waktunya untuk belajar memelihara ikan dan ular pada seorang pengusaha Cina yang bertetanggaan dengan Abdul Zakir. Di sanalah Sutiman mulai terinsfirasi untuk menjadi seorang penjual ikan sebab ia melihat pengusaha Cinya yang sehari-harinya bekerja sebagai penjual ikan di sekitar kampungnya mendapatkan hasil yang cukup besar. Sutiman terus belajar dari orang Cina itu dan ahirnya ia mengerti bahwa segala usaha tidak akan mencapai kesuksesan apabila tidak ditekuni. Keinginannya untuk menjadi penjual ikan sudah matang sejak saat itu dan ia-pun berencana untuk pulang ke kampung halaman dan akan memulai usaha barunya sebagai penjual ikan di kampung halamannya.

Delapan bulan bekerja sebagai guru ngaji di rumahnya Abdul Zakir, Sutiman memutuskan untuk pulang ke Lombok. Pada ahir bulan April 2008, Sutiman sampai jua di kampung halaman. Setelah kurang lebih sebulan di rumah, Sutiman  membeli motor seken dan itulah yang kemudian ia gunakan sebagai transportasi untuk memulai usahanya sebagai penjual ikan keliling. Dengan demikian Sutiman memulai karirnya sebagai penjual ikan keliling sejak bulan Juni 2008. Sambil berjualan ikan, Sutiman juga bekerja sebagai pencari/penyalur TKI/TKW sebab sepulang dari Malaysia, ia dipercaya oleh PT. Boxen Labrindo untuk mencarikannya orang-orang yang ingin mengadu nasip ke Malaysia dan Saudi Arabia.

Sutiman menjelaskan bahwa untuk melakukan usaha barunya itu, ia mengeluarkan modal sejumlah Rp. 250.000. Yaaaa…namanya pemula, saya belum berani mengambil ikan banyak-banyak sebab saya belum mengenal banyak lokasi untuk menjajakan ikan yang saya bawa. Waktu itu, saya hanya mengambil 10 kg ikan pada nelayan Lepek Loang Desa Belanting Kecamatan Sambelia, dari 10 kg ikan yang saya beli dengan harga Rp. 250.000 itu, ternyata saya mendapatkan untung yang lumayan setelah dikurangi dengan biaya transportasi dan biaya makan selama di perjalanan menjual ikan. Waktu itu saya menjual ikan sejak pukul 07.00 Wita dan ikan saya habis sebelum adzan djuhur dikumandangkan. Pengalaman pertama yang sayadapatkan itu membuat saya semakin termotivasi sehingga pada hari-hari berikutnya saya mengambil ikan yang lebih banyak dan untung yang saya dapatkan juga lumayan besar. Itulah yang kemudian membuat saya semakin betah dan merasa bangga sebagai penjual ikan keliling. Selain itu menjual ikan keliling membuat saya memiliki banyak teman dan kenalan sehingga lama kelamaan saya juga punya banyak langganan sehingga saya tidak perlu susah-susah untuk menjajakan ikan yang saya bawa, papar laki-laki yang lucu dan sederhana itu.

Semakin hari, Sutiman semakin termotivasi uuntuk menjadi penjual ikan keliling dan ia tidak pernah merasa malu atas usaha yang dilakukannya itu. “Meskipun bau yang penting halal”, demikianlah perinsip Sutiman dalam menjalankan usahanya sebagai penjual ikan keliling. Setelah empat bulan menggeluti usaha sebagai penjual ikan keliling, Sutiman bisa memperbaiki rumah-nya dengan hasil yang ia peroleh dari usahanya itu.

 

Baca Juga :


Pada awal tahun 2009, Sutiman memperluas usaha penjualan ikannya dengan memberikan modal kepada dua orang tetangganya yang berminat untuk mengikuti usaha yang digelutinya. Kedua orang itu diberikan modal sama-sama Rp. 300.000 dan dari modal yang diberikan oleh Sutiman itu, kedua orang temannya memulai usaha sebagai penjual ikan keliling hingga saat ini. Kedua orang itu juga berhasil sebagaimana keberhasilan yang diperoleh Sutiman. Sejak tahun ini pula sutiman berhenti bekerja sebagai penyalur TKI/TKW melalui PT. Boxen Labrindo sebab ia ingin fokus untuk mengembangkan usahanya sebagai penjual ikan keliling.

Beberapa bulan berikutnya Sutiman memberikan modal kepada 5 orang temannya yang berasal dari Dara Kunci dan Lepek Loang Desa Belanting Kecamatan Bayan. Mereka juga diberikan modal awal sebesar Rpp. 300.000 dan hingga saat ini kelima orang tersebut juga tetap berjualan ikan sebagaimana yang dilakukan oleh sang insfiratornya (Sutiman). Usaha Sutiman sebagai penjual ikan keliling semakin hari semakin berkembang dengan pesat sehingga pada ahir tahun 2009 ia dapat membeli tanah pertanian seluas 50 are. Tanah pertanian yang dibelinya itu kemudian digarap oleh ibu dan istrinya. Karena Sutiman tidak bisa mengerjakan tanah pertanian itu maka setiap musim tanam, ia menyewa beberapa orang buruh tani yang ada di sekitar kampungnya untuk membantu ibu dan istrinya mengelola tanah pertanian yang ia beli itu.

Usaha yang dilakukan oleh Sutiman ternyata tidak hanya memberikan keuntungan secara peribadi saja. Namun dari usaha itu, Sutiman bisa membuka lahan pekerjaan bagi orang-orang yang ada di sekitar-nya. Inilah hal pelajaran penting yang harus kita garis dalam kisah Sutiman Si Penjual Ikan ini. Modal yang tidak seberapa tenyata dapat membawa keberuntungan yang cukup besar bagi Sutiman dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Modal besar itu tidak penting, yang penting adalah motivasi kerja, ketekunan dan memelihara kepercayaan pelanggan, itulah kunci keberhasilan yang saya perolah dan perinsip itu tetap saya tularkan kepada kawan-kawan yang mengikuti saya melakukan usaha berjualan ikan keliling. Tegas Sutiman saat penulis mewawancarai-nya.

Luar biasa, ternyata Sutiman juga memiliki perinsip usaha yang cukup mulia dan tentunya perinsip itu harus kita tauladani dalam melakukan usaha apa-pun. Memang benar, apapun yang kita kerjakan jika kita tidak memiliki motivasi dan ketekunan serta tidak memelihara kepercayaan dari orang lain, maka keberhasilan akan sulit kita dapatkan. Untuk itu, penulis megajak kita semua supaya senantiasa tetap termotivasi dan tekun dalam melakukan usaha yang kita geluti, termasuk sebagai penulis atau penyalur informasi di halaman Kampung Media.

Pembaca yang budiman, kita kembali lagi kepada kisah hidup Sutiman. Pada ahir tahun 2010, Sutiman sudah memberikan modal usaha kepada 17 orang teman dan tetangganya yang mau mengikuti jejaknya sebagai seorang penjual ikan keliling. Setiap hari mereka berangkat bersama-sama dan membagi terayek untuk menjual ikan yang mereka bawa. Kegiatan itu memberi pengaruh yang positif bagi kawan-kawan Sutiman. Dengan berjualan ikan keliling, tarap perekonomian mereka pelan-pelan mengalami peningkatan. Hal itu membuat beberapa orang kenalan dan sahabat Sutiman tertarik untuk ikut berjualan ikan sehingga semakin hari Sutiman mempunya banyak teman berjualan. Namun hal itu tidak menjadi permasalahan bagi Sutiman, ia tidak pernah merasa tersaingi oleh kehadiran kawan-kawannya itu dan bahkan ia sangat bersyukur bahwa usaha yang ia lakukan ternayata dapat diikuti oleh kawan-kawan dan sahabatnya. Sutiman berperinsip bahwa “Allah telah menetapkan rizki masing-masing orang dan orang lain tidak akan bisa mengambil rizki yang ditakdirkan untuk orang lainnya”. Perinsip itu pula yang membuatnya senang memberikan modal usaha bagi kawan-kawannya yang ingin melakukan usaha menjual ikan seperti dirinya.

Kesetiaan Sutiman melakukan usaha yang ia geluti itu perekonomiannya semakin membaik, sehingga pada tahun 2013 Sutiman mampu membeli mobil secen yang kemudian ia gunakan untuk menjual ikan keliling. Namun, menjual ikan secara berkeliling dengan menggunakan mobil membuatnya repot dan juga kurang nyaman sehingga pada ahir tahun 2013 ia menjual mobil itu dan bayarnya digunakan membeli tanah seluas 1 ha. Wah…wah…wah… lama-lama Sutiman jadi tuan tanah kalau usaha penjualan ikannya semakin sukses, saya jadi iri melihat keberhasilan Sutiman. Besok-besok saya mau alih profesi sebagai penjual ikan keliling supaya saya bisa sukses seperti kanda Sutiman. Heheheeeeee, just kiding friends.

Sutiman kembali lagi menjual ikan dengan menggunakan sepeda motor sebab menjual ikan keliling dengan menggunakan sepeda motor lebih nyaman dan leluasa. Sejak pertengahan tahun 2008 hingga sekarang, Sutiman tetap setia melakukan usaha sebagai penjual ikan. Ia tidak lagi gonta-ganti pekerjaan yang meskipun ia sering ditawari untuk bekerja diperusahaan ataupun dibidang-bidang lainnya. Pada awal tahun 2015 ini, setidaknya Sutiman pernah memberikan modal kepada 30-an sahabat dan kerabatnya untuk melakukan usaha yang sama dengan dirinya dan sebagian besar dari mereka mendapatkan keberhasilan, artinya setelah mengikuti jejak sutiman sebagai seorang penjual ikan keliling, tarap perekonomian mereka lebih meningkat dari pada sebelum menggeluti usaha itu.

Kini Sutiman dan keluarganya hidup sejahtera, dari hasil usahanya, Sutiman dapat membuat rumah dan membeli 1,73 ha tanah pertanian. Teman-teman yang pernah ia berikan modal juga sudah berusaha secara mandiri dengan usaha yang sama, yaitu sebagai penjual ikan keliling dan mereka juga dapat mendapatkan penghasilan yang lumayan dari usaha yang awalnya dimodali oleh Sutiman. Meskipun demikian Sutiman tetap setia pada usahanya itu dan ia berkata, saya akan tetap melakukan usaha ini sampai kapanpun sebab lewat usaha menjual ikan berkeliling saya merasa bahwa diri saya mendapat kesuksesan dan kepuasan batin.

Setiap harinya Sutiman dapat menjual ikan sebanyak 500 hingga 800 kg dan dari usaha itu ia bisa mendapatkan laba sebesar Rp. 400.000 hingga Rp. 600.000/hari. Karena nelayan dan pengepul ikan percaya kepada Sutiman maka laki-laki muda ini tidak pernah kesulitan untuk mencari barang jualannya. Untuk menjalankan usahanya, Sutiman mengambil ikan dari beberapa tempat, yaitu Pantai Lepek Loang, Pantai Tekalok, Labuhan Carik dan bahkan sering mengambil ikan di Labuhan Lombok/Kayangan.

Sutiman biasa mengambil barang pada sekitar pukul 21.00 hingga pukul 22.00 Wita. Setelah pulang membeli ikan, Sutiman langsung beristirahat dan pukul 04.00 ia mulai mempersiapkan barang dagangannya dan setelah selesai shalat Subuh, ia mulai memulai kegiatannya untuk berkeliling untuk mendistribusikan ikan jualannya kepada para pelanggan setianya dan orang-orang lainnya. Biasanya barang dagangan Sutiman habis didistribusikan sebelum dikumandangkannya shalat djuhur dan aetelah itu ia pulang beristirahat hingga pukul 13.30. Setelah itu ia akan kembali mengambil ikan ke pengepul langganannya dan kemudia berangkat lagi menjajakannya hingga sebelum magrib. Jadwal itu tetap ia lakukan dengan disiplin dan tanpa sedikit keluhan, sehingga tidak mengherankan jika Sutiman sukses menjadi seorang penjual ikan keliling.

Sutiman memiliki jadwal tersendiri untuk menjual barag dagangannya, pada hari Senin ia menjual ikan berkeliling mulai dari belanting hingga ke wilayah Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan dan pada sore harinya, ia menjual barang dagangan ke arah timur, mulai dari wilayah Dara Kunci hingga wilayah Desa Sambelia. Pada hari selasa, ia menjual ikan di pasar Belanting dan selesai pasaran ia mengambil barang lagi kemudian membawanya ke wilayah Obel-Obel hinga Akar-Akar. Rabu pagi Sutiman mangkering di pasar Kokok Putik dan selesai pasaran ia mengambil barang kemudian menjajakannya ke wilayah Dara Kunci hingga Sambelia. Kamis pagi, ia menjual ikan di Pasar Ancak Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan, selesai pasaran ia mengambil ikan lagi dan kemudian berkeliling menjualnya hingga wilayah Sambelia. Hari Jum’at, ia hanya menjual ikan di sekitar wilayah Belanting hingga Obel-Obel, pukul 11.00 Wita ia harus sudah berada di rumah sebab penjual ikan ini dijadualkan sebagai tukang adjan di masjid yang berada di kampungnya. Selesai jum’at-an, Sutiman kembali berdagang menuju arah timur, mulai dari Belanting hingga Sambelia. Pada hari Sabtu, ia menjual ikan di sekitar wilayah Belanting, Obel-Obel hingga ke Bayan, selesai shalat dzuhur dan istirahat siang di kediamannya, Sutiman kembali mengambil ikan dan menjualnya ke wilayah Sambelia. Pada hari Minggu, Sutiman menjual ikan di Pasar Umum Desa Anyar Kecamatan Bayan dan pada sore harinya ia menjual ikan berkeliling hingga ke wilayah Desa Sambelia.

Sutiman betul-betul disiplin dengan waktu dan jadwal yang sudah biasa ia jalankan. Laki-laki ini merupakan sosok yang sangat kuat, bayangkan saja, setiap hari ia berkeliling menjual ikan dengan trayek yang begitu jauh, namun demikian ia tidak pernah mengeluh dan berusaha untuk meninggalkan usaha itu.

Demikianlah kisah hidup Sutiman si Penjual Ikan yang hingga saat ini tinggal di Dusun Koloh Sepang Desa Dara Kunci Kecamatan Sambelia. Hasil yang diperolehnya dari usaha menjual ikan itu digunakan untuk menghidupi ibu, istri dan putranya yang saat ini sudah duduk di bangku kelas enam SD. Melalui usaha itu juga sutiman berusaha menjadi manusia yang berjiwa sosial, ia tidak pernah pelit kepada siapa saja yang membutuhkan bantuannya.

Semoga kisah ini bisa menjadi insfirasi bagi kita semua supaya kita senantiasa setia dan tekun dalam menjalankan usaha apa saja yang kita kembangkan. Semoga pula cerita ini dapat membangkitkan semangat dan motivasi kita untuk selalu berkarya dan mencari rizki yang dihamparkan oleh Allah Aza Wa Zalla melalui jalan dan usaha-usaha yang halal dan diridhoi oleh-Nya, amin ya robbal alamin dan Salam dari Kampung. [] - 02

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan