logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mengumpulkan Barang Bekas untuk Biaya Sekolah

Mengumpulkan Barang Bekas untuk Biaya Sekolah

KM. Sukamulia – Hidup adalah perjuangan, kata-kata itulah yang terlintas di dalam otak penulis saat melihat Marzuki memungut barang-barang bekas berupa

Sosok Inspiratif

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
12 Desember, 2014 23:22:07
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 5068 Kali

KM. Sukamulia – Hidup adalah perjuangan, kata-kata itulah yang terlintas di dalam otak penulis saat melihat Marzuki memungut barang-barang bekas berupa plastik dan kertas di atas timbunan sampah. Kedua tangan Marzuki sibuk mengais timbunan sampah untuk mencari pelastik dan kertas bekas sambil menggendong putranya yang masih berumur 4 tahun. Sepertinya sang anak mengerti dengan keadaan orang tuanya sehingga anak tersebut tidak menangis dan tetap tenang di atas punggung sang ayah yang sedang mengais sampah di bawah terik matahari.

Marzuki adalah salah seorang warga Dusun Kokok Putik Desa Bilok Petung yang sehari-harinya bekerja sebagai maklar di pertigaan Kokok Putik. Marzuki memiliki tiga orang anak dan anak pertamanya sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, sedangkan anak keduanya masih duduk di bangku kelas IV SD dan anaknya yang terahir masih berumur 4 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya Marzuki melakukan berbagai pekerjaan, pada pagi hari beliau menjadi maklar di Pertigaan Kokok Putik. Menjadi maklar di pertigaan Kokok Putik tidaklah seperti menjadi maklar di perempatan Masbagik atau perempatan Pasar Pringgabaya yang setiap harinya ramai dengan penumpang angkutan umum. Pertigaan Kokok Putik hanya ramai pada hari pasaran saja, yaitu setiap hari Rabu, sedangkan pada hari-hari lainnya pertigaan itu sepi dan paling-paling hanya dilalui oleh 4 atau 5 mobil engkel yang biasa lalu lalang di sana.

Pendapatan Marzuki dari jasa maklar dan buruh pasar tidaklah seberapa sehingga ia harus mencari jalan lain untuk menambah pendapatannya, lebih-lebih anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SMP selalu membutuhkan uang transport untuk pergi dan pulang sekolah, belum lagi anaknya yang nomor dua yang setiap harinya membutuhkan belanja sekolah, lebih-lebih putranya (Rozali) yang masih berusia 4 tahun yang memang belum tahu namanya tidak ada.

Setiap harinya saya harus mengeluarkan uang sekitar 6 ribu untuk biaya sekolah kedua orang anak saya, belum lagi belanjanya si Rojali dan kebutuhan lainnya. Namun saya tidak pernah mengeluh dengan keadaan itu, Allah pasti memiliki rencana lain untuk kehidupan keluarga saya dan itulah sebabnya saya selalu berusaha untuk mencari rezeki meskipun harus mengais timbunan sampah atau berkeliling untuk mencari barang bekas. Jelas laki-laki tua itu dengan senyum khas di bibirnya.

Tidak ada hal yang tidak mungkin dalam hidup ini, yang penting kita sehat dan berpikiran jernih serta tidak mengeluh atas kodrat Allah maka insyallah Tuhan akan mencukupi kebutuhan kita, meskipun kita harus berlelah-lelah untuk mendapatkannya. Ea, contohnya saya yang setiap pagi nongkrong di pertigaan sebagai maklar-kah namanya, kadang saya dapat uang dan kadang pula tidak, lebih-lebih pada musim hujan seperti sekarang ini. Tambah Marzuki sambil memperbaiki ikatan kain gendongan anaknya.

Penulis salut mendengarkan kata-kata orang itu, ia cukup tegar dalam menghadapi hidup ini dan sunggung ia tidak pernah berputus asa atas rahmat Allah SWT. Memang setiap harinya penulis melihat laki-laki tua itu nongkrong di pertigaan dan pada hari Rabu (hari pasaran) penulis selalu melihatnya sibuk mengangkut atau menurun dan menaikkan barang dari mobil angkutan umum. Menurut keterangannya, pada hari Rabu ia biasa mendapatkan uang sebanyak 50 hingga 70 ribu dan kadang-kadang kurang dari itu, sedangkan pada hari-hari lainnya ia hanya mendapatkan 5 hingga 15 ribu.

Atas semangat dan ketekunannya untuk mencari rizki maka beliau dapat menyekolahkan dua orang putrinya. Supaya anak pertamanya tetap pergi ke sekolah, Marzuki atau yang akrab dipanggil Amaq Uki memanfaatkan waktu luangnya di sore hari untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas berupa plastis dan kertas/dus. Barang bekas yang ia dapatkan, dijual sekali seminggu dan penghasilan beliau dari usaha ini juga tidak menentu. Katanya sih, setiap minggu beliau dapat mengumpulkan 15 hingga 38 kg barang bekas dan jika dijual maka paling-paling ia hanya mendapatkan uang sebesar 20 hingga 60 ribu rupiah. Hasil penjualan barang bekas itulah yang kemudian digunakan sebagai biaya sekolah anak-anaknya.

 

Baca Juga :


Jujur saja, saya mencari dan mengumpulkan barang bekas supaya kedua orang anak saya bisa tetap bersekolah, terutama anak pertama saya yang sudah duduk di bangku Kelas 2 SMP. Setiap harinya saya harus menyediakan 4 ribu untuk biaya transportasi dan seribu untuk belanjanya. Untuk anak saya yang masih SD saya hanya memberikannya belanja seribu perhari sehingga setiap harinya saya harus menyediakan uang sebesar 6 ribu untuk transport dan belanja sekolah kedua orang anak saya dan uang tersebut saya dapatkan dari hasil penjualan barang bekas yang saya kumpulkan dan saya jual setiap minggu. Sedangkan uang yang saya dapatkan dari hasil menjadi buruh dan maklar, saya serahkan kepada ibunya anak-anak untuk digunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga kami. Papar Marzuki saat penulis wawancarai di sela-sela kesibukannya mengasi timbunan sampaih, siang tadi.

Penulis terharu mendengar pengakuan laki-laki tua itu. Sekali lagi penulis katakana bahwa penulis salut atas ketekunan dan keuletan Amaq Uki dalam menuntut rizki demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan membiayai sekolah anak-anaknya. Beliau tidak pernah mengeluh dan berputus asa untuk mencari rizki dengan jalan apapu, “yang penting halal” itulah yang menjadi perinsip Amaq Uki dalam menuntut rizki.

Sahabat Kampung Media, mungkin kita tidak pernah merasakan kerasnya hidup seperti apa yang dialami oleh Marzuki, maka patutlah kita bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita sekalian dan semoga kita tetap ingat dan takut kepadanya sehingga kita sekalian terjauhkan dari mencari rizki dengan menempuh jalan yang haram. Semoga Allah SWT selalu member Marzuki kesehatan dan keafiatan sehingga beliau senantiasa kuat untuk menuntut rizki dengan jalan apapun yang beliau bisa dan semoga dikemudian hari anak-anaknya menjadi orang yang berbakti kepada Allah dan orang tuanya, bermanfaat bagi nusa dan bangsa serta agama. Amin ya Robbal Alaminnnnnnnnnnn. [] - 05

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan