logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tak Cukup dengan Gengsi

Tak Cukup dengan Gengsi

KM Wadupa’a: Hidup seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Ada suka dan ada juga duka. Hal itu

Sosok Inspiratif

KM. Wadupa-a
Oleh KM. Wadupa-a
30 September, 2014 06:05:51
Sosok Inspiratif
Komentar: 4
Dibaca: 10740 Kali

KM Wadupa’a: Hidup seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Ada suka dan ada juga duka. Hal itu merupakan bumbu yang mesti bisa disikapi secara bijaksana. Beberapa penggalan kalimat bijak tersebut merupakan moto hidup Abdul Hamid (25), kru Kampung Media Wadupa’a. Berikut catatan Fachrunnas.

Pria tegap dari tiga bersaudara ini memiliki prinsip hidup untuk meraih kesuksesan tak boleh cengeng, sombong, gampang menyerah serta puas dengan hasil yang diraih hari kemarin. Hal tersebut  setidaknya membuatnya tegar dengan kenyataan hidup bahwa untuk meraih kesuksesan tak cukup dengan gengsi. Sejak tamat SMA tahun 2009 lalu, ia menjadi kepala keluarga setelah bapak kandungnya meninggal.

Hari-hari bungsu dari tiga bersaudara ini setelah tamat SMA tak langsung indah seperti para pemuda lain. Hampir setiap hari ia melaut, kadang ikut menangkap ikan bersama nelayan jala atau bagang hingga laut Tambora dan Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Bila   tak melaut, Hamid  menjadi buruh bangunan bersama pemuda lain, kadang menjadi pengepul besi. Hampir tak ada waktu lowong yang ia buang percuma, berlalu tanpa makna.

Sejak bapaknya meninggal, secara otomatis ia memikul tanggungjawab menafkahi ibu dan dua orang saudara perempuannya. “Kalau dulu hampir selama satu tahun saya selalu di laut, kadang kalau lagi cuaca tak bersahabat, saya kerja bantu-bantu jadi kuli, kadang bantu tetangga cari kayu bakar. Saya pikir setidaknya tidak membuang waktu secara percuma,” katanya.

Meskipun memikul beban berat sebagai kepala keluarga, Hamid selalu bersyukur karena dianugerahi kesehatan. Kendati bergelut dengan aktivitas yang berat, kesehatannya selalu terjaga. Ia merasa beruntung karena pamannya yang sejak awal merupakan nelayan sudi menampungnya ikut melaut. Sebelum pensiun dan meninggal, bapaknya memang pernah menjabat Kepala Seksi di Kantor Kecamatan Donggo. Namun gaji pensiun bapaknya yang Rp1,2 juta tak sepenuhnya mencukupi kebutuhan keluaraganya, apalagi memiliki pinjaman di bank, sehingga ia pun terpaksa menunda kuliah tahun 2008 lalu.

“Tahun 2009 baru berani saya mendaftar kuliah di STKIP Taman Siswa Bima. Syukur ada gaji pensiun almarhum bapak, walaupun kadang harus pergi bagang,” katanya.

Dari hasil ia melaut dibantu gaji pensiun bapaknya, dua saudara perempuan Hamid menuntaskan kuliah di STKIP Bima. Kini kakak sulungnya juga bekerja membantu mencari nafkah, meskipun hingga kini masih berstatus guru sukarela pada salahsatu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Soromandi, sedangkan saudara perempuannya yang lain menikah dengan pria asal Kota Bima, setelah menuntaskan kuliah.

Di sela kesibukannya mencari nafkah untuk keluarganya terkadang ia meluangkan waktu untuk menekuni hobinya main bola sehingga hampir di seluruh desa di Kecamatan Soromandi, Hamid dikenal piwai bermain bola. Beberapakali ia pernah dibayar untuk membela klub sepakbola Kecamatan lain seperti Monta. Darah sebagai pesepak bola mengalir turun temurun dalam keluarganya. Saat muda, pamannya juga seorang pemain sepak bola. “Beberapakali saya disewa klub sepakbola kecamatan lain. Saya main bersama ipar, kebetulan dia mantan pemain Persebi,” ujarnya.

Saat memasuki kuliah semester atas, pria campuran Wera-Penatoi Kota Bima ini mencoba aktif dalam sejumlah organisasi dan media komunitas. Kebetulan saat itu sering diajak tetangganya yang kebetulan wartawan. “Dari bergaul dengan abang yang wartawan, kemampuan saya berkomunikasi seperti mengembangkan isu, materi wawancara hingga menulis berita mulai berkembang,” ujarnya.

Hamid bersyukur dengan menjadi jurnalis meskipun masih sebatas media komunitas, rasa percaya dirinya terus berkembang. Tahun 2012 lalu ia bersama tetangganya membentuk komunitas Kampung Media Wadupa’a kemudian Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kecamatan Soromandi.

Hal yang paling ia banggakan saat komunitas jurnalisme warga yang baru seumur jagung itu berhasil terplih sebagai Duta Informasi Provinsi NTB. Beberapakali ia tercatat mengikuti beberapa pelatihan dan diksusi grup (Focus Discusion Group) mulai dari tentang lingkungan, pelayanan publik, keterbukaan informasi. Ketertarikannya terhadap komunitas juga membuatnya ikut memerjuangkan keterbukaan informasi publik di Kecamatan Soromandi.

 

Baca Juga :


Beberapakali Hamid keliling sejumlah desa untuk menjaring aspirasi masyarakat berkaitan dengan pengaduan publik. Ia juga menjalin komunikasi dengan sejumlah Kepala Desa, menyarankan solusi terbaik untuk masyarakat. Maka tak heran dari kegiatan itu, beberapa masyarakat tak segan menyampaikan unek-unek dan keluhan melalui posko dan nomor pengaduan publik yang ia buka bersama rekannya.

“Ternyata dekat dengan masyarakat, mendengarkan keluhan mereka juga asyik. Kita bisa tahu dan mendengarkan keluhan mereka, meskipun tak lantas kita bisa membantunya. Kita hanya mengarahkan bagaimana solusinya,” ujarnya.

Selain aktif dalam komunitas jurnalisme warga, Hamid juga aktif dalam Forum Komunikasi Pemuda Pesisir (FKPP) Bima.  Berkat kepeduliannya terhadap lingkungan dan masalah pesisir, ia bersama sejumlah rekannya dalam forum tersebut diberikan kepercayaan oleh sejumlah lembaga nasional melaksanakan diskusi dan pelatihan. Tahun 2013, Hamid bersama rekannya menggelar pelatihan menulis bagi siswa SMA. Seluruh anggaran merupakan patungan dia bersama teman-temannya.

Kendati belum memiliki pekerjaan tetap, ia berharap bisa bermanfaat menularkan pengetahuan yang bermanfaat kepada remaja dan pemuda lain sehingga semangat dalam menatap masa depan yang lebih baik. “Prinsip saya dan teman-teman yang tergabung dalam komunitas, bagaimana kita itu bisa bermanfaat bagi orang lain. Jika satu kebaikan ditularkan kepada 10 orang akan terbentuk ratusan kebaikan dan seterusnya, ribuan hingga jutaan orang yang mau menularkan kebaikan,” katanya.

Berkat kesabaran dan kegigihannya bekerja, tahun 2013 lalu ia juga diberikan kepercayaan untuk membantu tugas penyelenggara Pemilu. Ia dingkat sebagai staf Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kecamatan Soromandi sejak Pemilu legislatif hingga Pilpres Tahun 2014, beberapa bulan lalu. Meskipun selama ini sibuk kuliah dan aktif dalam sejumlah organisasi di luar kampus, Hamid cukup terlatih mengerjakan beberapa tugas administrasi, termasuk yang berhubungan dengan komputer. “Alhamdulilah dari hasil kerja itu saya bisa menutupi kebutuhan keluarga. Seluruh uang gaji saya berikan kepada mama saya, demikian juga dari kegiatan-kegiatan saya yang lain setiap hari,” ungkapnya.

Setelah masa tugas Panwaslu tuntas, Hamid tetap berupaya bertanggunjawab sebagai kepala keluarga. Saat ini dia sedang membangun jejaring dengan sejumlah rekan dan mahasiswa setip kampus, mendirikan media online. Selain itu, sejak beberapa pekan lalu, ia menjual sosis dan naget di depan sejumlah sekolah di Kota Bima. Ide menjual sosis itu muncul setelah disemangati Kartono, pria asal Lombok yang pernah dia profilin dalam tulisannya.

Setiap hari dia mesti bangun subuh, menyiapkan rombong dan peralatan memasak. Hamid tak malu dengan cibiran tetangga dan teman-temannya yang melihatnya bekerja serabutan, baginya yang terpenting bisa meraih penghasilan yang halal. Sikapnya yang bersahabat yang kadang-kadang kocak menghibur membuat puluhan siswa langgannya selalu menanti ia berjualan.

Dari hasil jualan sosis dan naget berbahan dasar ikan itu setiap hari ia mendapatkan keuntungan bersih antara Rp200ribu hingga Rp300 ribu. Beberapa relasinya di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) salut,  tertarik membimbing dan membantu sejumlah peralatan pengolahan.

Hamid tak mengetahui sampai kapan harus memikul beban, namun terpenting baginya bagaimana bisa menafkahi keluarganya dari rizky yang halal. “Saya yakin setiap kegiatan positif selalu menghasilkan kebaikan dan setiap kebaikan akan menghasilkan kebaikan yang berlipat-lipat, asal kita mau berusaha dan nggak putus asa. Karena hidup tak bisa hanya dengan gengsi. Buat apa kelihatan sempurna di depan, tapi isi dalamnya kosong,” katanya. (*) - 01



 
KM. Wadupa-a

KM. Wadupa-a

Koordinator: FACHRUNNAS Email : kampungmediawadupaa@gmail.com Komunitas Jurnalisme Warga. Menyuguhkan Informasi seputaran Soromandi dan Wilayah Sekitar.

Artikel Terkait

4 KOMENTAR

  1. KM Nggaronipo

    KM Nggaronipo

    01 Oktober, 2014

    Jaman skr, tak ada gengsi cari duit, yg penting itu halal. Siapa yg malas kerja, pasti tk mengenal duit..


  • KM. Wadupa-a

    KM. Wadupa-a

    01 Oktober, 2014

    Terimkasih spirit teman-teman KM, semoga mengispirasi kita semua


  • KM Kaula

    KM Kaula

    30 September, 2014

    di era modern seperti sekarang ini tidak gampang mencari orang yang mau bekerja keras seperti Hamid apalagi kalau itu jualan sosis, salut buat hamid semoga cerita ini bisa menginspirasi kita semua supaya jangan gengsi melakukan pekerjaan sehina apapun menurut orang lain yang penting itu halal.


  • KM. Serambi Brangrea

    KM. Serambi Brangrea

    30 September, 2014

    suskses memang tidak bisa terjadi begitu saja. tanpa perjuangan dan usaha keras suskses serta kemudahan yang diraih rekan kita abdul hamid tidak akan terwujud....semangat terus!!!


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan