logoblog

Cari

Pengaret Sampi Jadi DPR

Pengaret Sampi Jadi DPR

Chairil Anwar_Sakra, Siang hari yang sedianya harus panas, siang itu cukup teduh dibawah bayangan mendung yang menggumpal seolah-olah langit hanya pernah

Sosok Inspiratif

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
29 Mei, 2014 08:19:14
Sosok Inspiratif
Komentar: 1
Dibaca: 7716 Kali

Chairil Anwar_Sakra: Siang hari yang sedianya harus panas, siang itu cukup teduh dibawah bayangan mendung yang menggumpal seolah-olah langit hanya pernah menjanjikan hujan namun tak kunjung juga hujan itu datang. seperti biasanya Murnan, belia bertubuh kurus itu sudah menyiapkan sabit dan keranjang Rejek-nya (keranjang yang terbuat dari bilah bambu berbentuk lingkaran tabung yang bagian bawahnya di tutupo jaring) sudah terpanggul di pundak. Diayunkannya semangat dalam dadanya selepas pulang sekolah dan beristirahat melpas lelahnya.

Dalam batinnya dia berbisik sebentar lagi hujan turun bilss sku tidak segera kesawah mungkin aku tidak akn mendapatkan sekeranjang Impan (Rumput yang di dapatkan dari sawah atau ladang yang di sedikan penggembala untuk mkan sapinya dari sore hingga pagi hari), dipercepatnya langkah kaki dan di kuat-kuatkannya semangatnya karena di balik kumal dan dekilnya baju yang dikenaknnya, kelak akan berganti dengan safari dan dasi necis layaknya para wakil -wakil rakyat itu.

Disabitnya rumput yang sudah mulai menguning diterpa kemarau panjang itu. di tumpuk-tumpukkannya di atas pematang kemudian di isinya rejak yang dari tadi masih kelihatan lapar itu, perlahan keranjang itu mulai menggeliat kekenyangan saat rintik hujan mulai menerpa semngat Murnan siang itu. Dipercepatnya lagkah kaki yang mulai berat oleh beban impan yang di kumpulkannya dan berharap akan sampai dirumah sebeluh gerimis berganti hujan, dari kejauhan nampak Murnan sudah mulai kelelahan seiring enjekan (gerakan badan akibat langkah kaki yang dipercepat dengan setengah berlari) dan gemertak Pelembah(palang bambu antara dua keranjang rejek)nya.

Sesampai di depan Bare (kandang sapi) Murnan melepas desahnya seiring berat beban hidupnya yang menghimpit semenjak dia berumur lima tahun lalu itu hingga kini masih hinggap di tubuh kurus yang mulai kekar itu, diamatinya satu persatu Patus (Sapi jantan yang bertekstur tinggi besar) di bare tampa sedikitpun tak pernah ber harap kelak patus itu akan mengantarnya kesebuah sidang senat terbuka saat cita-citanya menjadi sarjana pertanian akan diraihnya.

Sambil menyeka keringat yang mulai membasahi dahinya dan Ampes (percikan air hujan yang di sebabkan tiupan angin) mulai membasahi baju dekilnya Murnan mulai mengerus sisa rumput dari dalam balen impan (bangun persegi atau berbentuk balok tempat mengisi impan) Murnan mengisinya kembali dengan rumput yang di dapatkannya Di bare yang berukuran tiga kali enam meter itu Murnan mengaret (menggembala dengan sistem kandang) sekitar empat ekor patus yang bukan miliknya namun ia berharap dari empat ekor itu Murnan akan dapat seekor sebagai bagiannya mengaret menurut kebiasaan masyarakat dikampungnya didusun jerua.

Dielusnya punggung patus patus itu satu persatu dengan tangan kecilnya yang sudah mulai berotot karena kebiasaan kerja kerasnya semenjak Murnan duduk di bangku kelas 1 MI NW JERUA, padahal diluar pengetahuan Murnan kecil sudah ada undang-undang tentang mempekerjakan anak seusia dirinya. Murnan setiap hari mengorot (membersihkan) bare dengan tambah(cangkul yang sudah hilang sebagian logamnya akibat karosi) yang di peroleh dari hasil tabungannya selama ini meskipun sesungguhnya benda itu tidak layak di tukar dengan hasil tabungannya namun demi menukar sebuah keinginan untuk mandiri Murnan menukarkan sebagian hasil tabungan nya dengan benda yang sudah mulai lapuk dilapisi kotoran sapi itu, namun memang seperti itulah kehidupan yang dialami Murnan, adalah kehidupan yang tidak terlalu memihak atas kaum miskin semisal dirinya, namun hal itu bagi Murnan bukanlah sebuah halangan untuk meraih cita-citanya.

Sebagian dari pagar-pagar Bare di lemparinya dengan kotoran sapi dengan tujuan agar angin malam tidak terlalu keras menusuk tubuh patus-patus itu malam harinya, di sediakannya rumput-rumput kering sisa makan pauts-patus itu untuk dijadikan sebagai perapian bila nyamuk-nyamuk banyak menyerang terlebih lagi bila musim hujan sudah mulai datang, malam hari adalah waktunya nyamuk-nyamuk berpesta seumpa pampire-pampire di negeri empat musim sebagaimana pelajaran yang di dengar Murnan dari bangku sekolah.

 

Baca Juga :


Malam harinya Murnan senantiasa ikut berjaga bersama Umar dan Amat untuk menjaga patus-patus itu dari incaran maling yang masih banyak berkeliaran pada malam hari meskipun hal itu merupakan ancaman bagi kesehatannya yang masih anak-anak namun dalam batinya hal tersebut adalah bagian dari perjalanan yang harus di tempuh Murnan, menurut dirinya tidak akan menjadi musibah bagi diri saya apabila segalanya saya serahkan kepada allah sebagaimana pelajaran yang di dapatkan Murnan dari guru-guru ngajinya di jerua.

Dinginnya angin malam tak menjadi halangan nyenyak tidur bagi Murnan terlebih lagi bagi dirinya, Umar dan Amat yang senantiasa memberikan kasih sayang kepada Murnan sehingga kebahagian Murnan sebagai pengaret sampi terasa makin lengkap walaupun sejatinya Murnan masih belum bisa mengerti kenapa dirinya tidak bersama inak dan amaknya sebagaimana teman-teman sebayanya di MI NW Jerua, terasa tubuh kurusnya mulai capek sehabis seharian bersekolah dan siangnya memenem (memberi minum) patus-patusnya dan pergi menyabit rumput.

Terasa lengkap sudah pengalaman Murnan sebagai anak jerua yang berstatus sebagai pengaret sampi hingga pada akhirnya nanti patus yang akan menjadi bagiannya akan mengakhiri satatusnya sebagai pengaret karena cita-citanya yang hendak melanjutkan pendidikannya sampai Murnan menjadi seorang sarjana pendidikan dengan Gelar S.Pd….

Dipenghujung 2013 Kapasitasnya sebagai Sekretaris Pengurus DPD Partai Berlambang Ka'bah Yang di Apit Padi Kapas itu mencalonkan dirinya yang dinobatkan sebagi Kader terbaik mengantarkan sosok Pengaret menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Di Dapil 2 Kabupaten Lombok Timur, Lain Bengkulu Lain Semarang Lain dahulu Lain Sekarang Dulu Pengaret Sekarang Jadi Dewan. (Abu Ikbal) - 05



 

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    29 Mei, 2014

    Belajar kritis ikuti abu macel,"..... dalam tulisan ini ada yang putus yakni dari proses murnan jadi pengarat sampai dia jadi dewan, mestinya di ceritakan tahapan nya jangan terlalu mendadak pindah tema dari pengarat jadi dewan, (maaf sebetulnya tulisannya sudah bagus cuma saya nya yang mau berlagak kritis).


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan