logoblog

Cari

Asa Di Ujung Senja

Asa Di Ujung Senja

Lebih dari separuh  hidupnya, Hasan Ali menghabiskan  untuk menjaga dan merawat situs cagar budaya ini, di usianya yang sudah senja ini,

Sosok Inspiratif

alan malingi
Oleh alan malingi
01 Februari, 2014 07:48:19
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 15187 Kali

Lebih dari separuh  hidupnya, Hasan Ali menghabiskan  untuk menjaga dan merawat situs cagar budaya ini, di usianya yang sudah senja ini, pria asli kampung Melayu ini mengggantungkan harapan kepada semua pihak terutama Pemerintah Daerah untuk serius menata, menjaga dan merawat asset tak ternilai ini untuk kepentingan sejarah dan peradaban ummat manusia. “ Saya berharap kepada Pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bima agar jangan hanya datang tinjau dan ukur-ukur terus, tapi segera membenahi Langgar yang sudah berdiri rapuh ini. “ Harapnya.

Disamping itu, Hasan berharap bantuan semua pihak untuk peduli terhadap kegiatan keagamaan dan pengajian Alqur’an di TPQ yang dibentuknya sejak 32 tahun silam. Karena sarana dan prasarana di Langgar ini sangat terbatas. “ Alqur’an dan buku Iqra masih minim sekali, anak-anak terpaksa belajar bergiliran. “ Ungkap Hasan.

Berkaitan dengan Langgar Kuno yang senantiasa dijaga dan dirawatnya, Hasan mengaku belum mengetahui siapa yang mendirikan Langgar ini, tetapi  dapat diperkirakan bahwa pendirinya adalah para mubaliq dari Minangkabau.  Pernah ada sebuah prasasti di Mimbar Langgar itu yang berukuran 1,20 cm x 1,60 cm yang bertuliskan huruf Arab Melayu dan bergambar Kerbau di atasnya (Lambang Minangkabau). “Saya sempat melihat dan membaca prasasti itu pada tahun 1960.Namun karena perseteruan tentang Bid’ah di kalangan pemuka saat itu, akhirnya prasasti itu pun dicabut. “ Kenang Hasan Ali dan mencoba mengingat isi prasasti itu. Bukti lain yang memperkuat kedatangan orang-orang Minangkabau adalah dari tanduk kerbau yang berjumlah 4 buah di atap Langgar ini yang masih ada sampai tahun 1960, namun karena terjangan angin dan cuaca tanduk kerbau itu rusak dan jatuh.

Sementara di atas tangga yang menjadi pintu masuk Langgar ini dulu pernah ada sebuah pahatan dengan tinta emas yang bertuliskan huruf Alqur’an yang berbunyi “ Watujahidu na fi sabilillahi bi amwalikum wa amfusikum “( Berperanglah pada jalan Allah dengan harta dan jiwamu). “Hingga tahun 1960, tulisan itu masih ada, namun ketika saya memulai kegiatan mengajar mengaji pada tahun 1980, saya tidak lagi melihat tulisan itu. “ Kenang Hasan yang sudah 32 tahun secara sukarela menjaga dan mengisi kesunyian Langgar itu dengan membuka TPQ Langgar Kuno.

 

Baca Juga :


Yah, Langgar ini adalah saksi bisu perjalanan sejarah Bima terutama pasang surut Islam di Bumi Maja Labo Dahu ini. Dia tengah berdiri penuh harap kepada peradaban dan anak negeri yang masih sempat menatapnya. Dia kini Rapuh Di Tiang Peradaban. Mari selamatkan warisan tak ternilai ini untuk generasi kini dan akan datang…..!   (*alan)



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan